Kalau Nggak Masuk Saham Ini Sebelum 2027, Kamu Bakal Nyesel
Pernah nggak, kamu lihat saham naik ratusan persen, tapi kamu telat masuk? Dulu ANTM di harga Rp600, sekarang sempat tembus Rp3.000. MDKA dulu di bawah Rp1.000, sekarang sempat melayang di atas Rp4.500. Bahkan IPCC yang jarang dibahas, bisa naik hampir 200% setelah ekspor kendaraan meningkat.
Itu bukan kebetulan. Ada momentum, ada tren besar, dan ada saham-saham yang diam-diam sedang dikumpulkan investor besar (foreign & institutional). Namun, uniknya — sebagian besar belum viral dan belum dilirik investor retail.
Nah, artikel ini membahas 5 saham berbasis komoditas, energi masa depan, pelabuhan ekspor, logam tanah jarang, dan tambang emas yang diprediksi akan bersinar menuju tahun 2026–2027.
Kenapa 2026–2027 Diprediksi Jadi Tahun Emas Saham Komoditas dan Mineral?
Tahun 2026–2027 bukan sekadar siklus pasar biasa. Ini adalah periode di mana beberapa faktor besar bertemu:
- Penurunan suku bunga global → dana asing kembali masuk ke emerging markets (termasuk Indonesia)
- Permintaan global atas baterai EV, logam tanah jarang, dan mineral kritis meningkat tajam
- Hilirisasi nikel, tembaga, emas, dan bauksit mendorong ekspor dan industrialisasi
- Pembangunan IKN, Pelabuhan, dan Infrastruktur meningkatkan arus logistik dan perdagangan
Indonesia punya posisi strategis karena kita memiliki:
- Cadangan nikel terbesar di dunia
- Mineral kritis seperti cobalt, manganese, tembaga, hingga rare earth materials
- Visi pemerintah membangun EV Battery Ecosystem dan ekspor mineral olahan
Di balik tren besar itu, ada beberapa saham yang diam-diam mulai dikumpulkan investor besar. Dan… sebagian belum viral di sosial media.
5 Saham yang Diam-Diam Diincar Investor Besar (Tapi Belum Viral)
1. ANTM (Aneka Tambang) – Raja Emas, Nikel, dan Logam Masa Depan
Kalau kamu cari saham yang masuk ekosistem baterai EV, emas, dan logam tanah jarang, ANTM hampir unbeatable.
Kelebihan ANTM:
- Produsen emas, nikel, bauksit, dan logam tanah jarang
- Terkait langsung dengan pabrik baterai EV Indonesia-Korsel-China
- Didukung oleh pemerintah melalui roadmap hilirisasi
Dulu banyak orang menyesal nggak beli ANTM sebelum bullish nikel tahun 2021. Jangan ulangi kesalahan di 2026.
2. MDKA (Merdeka Copper Gold) – Raja Tembaga dan Mineral Strategis EV
MDKA bukan sekadar tambang emas. Perusahaan ini adalah calon pemain besar dalam:
- Gold (emas)
- Copper (tembaga – komponen baterai EV dan kabel listrik)
- Cobalt (kunci utama baterai lithium-ion)
- Bahan logam tanah jarang (Rare Earth Elements)
MDKA berpotensi menjadi center of green-mineral revolution di Asia Tenggara. Valuasi masih sangat prospektif untuk jangka panjang.
3. IPCC (Indonesia Kendaraan Terminal) – Pelabuhan EV dan Ekspor Kendaraan
IPCC adalah saham pelabuhan spesialis ekspor-impor kendaraan dan alat berat. Kenapa penting?
- Indonesia sedang naik daun sebagai export hub kendaraan listrik
- Volume ekspor mobil (termasuk EV dan alat berat tambang) terus meningkat
- Investor asing mulai mengumpulkan saham logistik dan pelabuhan
Banyak orang belum tahu: pelabuhan adalah tulang punggung ekspor mineral, logam, dan kendaraan listrik.
Dan IPCC sangat mungkin menjadi "saham infra EV" yang baru viral belakangan nanti.
4. PSAB / BYAN – Saham Emas Sebagai Penjaga Nilai Saat Gejolak
Kalau dunia masuk masa ketidakpastian geopolitik dan inflasi, emas biasanya jadi “safe haven”. Dan perusahaan emas bisa jadi penyelamat portofolio.
Kelebihan saham tambang emas:
- Nilainya naik saat krisis
- Hedging inflasi
- Sumber dividen stabil jika fundamennya kuat
PSAB & BYAN memiliki potensi sebagai anti-krisis protector untuk portofolio jangka panjang.
5. NICL / ZINC / TINS – Pemain Logam Tanah Jarang (Rare Earth) Indonesia
Logam tanah jarang adalah bahan strategis masa depan untuk:
- Chip dan semikonduktor
- Magnet permanen untuk EV
- Teknologi nuklir dan AI computing
- Panel surya dan energi hijau
Mineral seperti neodymium, dysprosium, praseodymium, dan terbium — akan jadi “minyak baru” di era digital.
NICL, ZINC, dan TINS adalah beberapa emiten yang membuka potensi ini.
Cara Masuk Saham Ini (Tanpa FOMO dan Tanpa Nyangkut)
- Gunakan strategi DCA (Dollar Cost Averaging) atau cicil berkala
- Masuk saat fase akumulasi (bukan euforia)
- Perhatikan foreign flow dan volume akumulasi
- Jangan tunggu viral — biasanya sudah telat
Ingat: investor besar beli saat sepi. Investor FOMO beli saat ramai.
Kesimpulan: Jangan Tunggu Saham Ini Viral
Saham-saham seperti ANTM, IPCC, MDKA, BYAN, TINS, NICL bukan hanya saham komoditas biasa. Mereka sedang berada di tengah pertemuan tren besar: EV, industrialisasi hijau, ekspor mineral, dan logam tanah jarang.
Dan seperti biasa, pada awalnya mereka terlihat biasa saja…
Hingga tiba-tiba semua orang membicarakannya.
Saat itu — biasanya kamu sudah terlambat.